Home > Konsultasi > Islam tidak adil pada wanita

Islam tidak adil pada wanita

Assalamu’alaikum ustadz..

Saya akhwat, berjilbab, belum menikah dan berlatar belakang lingkungan dan keluarga yang sangat taat. Saya sendiri memiliki kecintaan yang tinggi thd agama.

Ingin bertanya sebuah pertanyaan saja.

Pertanyaan ini sudah sering saya dengar, dan saya sudah research tetapi belum merasa menemukan jawaban yang tepat. Pertanyaan/pernyataan ini sebenarnya agak mengganggu hati saya,

“Islam tidak adil pada wanita”

Ada beberapa hal yang menyakitkan hati saya jika terlintas pikiran mengenai hal ini, tetapi saya sendiri memiliki banyak alasan mengapa saya merasa seperti ini

  1. Suami boleh poligami tanpa izin istri pertama selama bisa adil. Saya tipe wanita yang tidak mementingkan harta, saya rela melakukan apapun demi suami saya dan malayani semaksimal mungkin, dan hanya mengharapkan kasih sayang. Rasanya tidak kuat hati saya jika memikirkan suami yang saya layani sepenuh hati merasa membutuhkan wanita lain.
  2. Di surga pria memiliki banyak istri, tetapi wanita tidak. Pernyataan ini membuat saya sakit ketika memikirkan surga.
  3. Ridho istri ada pada suami tetapi suami tidak perlu mencari ridho istri.
  4. Apakah ada hadist tentang suami harus memikirkan perasaan istri?

“Seumur hidup wanita harus melayani suami, mengorbankan fisik dan mental demi suami, selalu mengalah dan tidak menyakiti suami, tetapi pada akhirnya diberi surga dimana akan kekal bersama suami yang memiliki istri banyak”

Sungguh ustadz, tidak ada rasa saya mau merendahkan islam, tetapi saya butuh jawaban, hati saya sakit memikirkan ini. Tolong di jawab via email atau video. Terimakasih ustadz.

Wassalamu’alaikum

Jawaban :

Wa alaikumus salam wr wb.

Di dunia tempat kita hidup sekarang ini adalah ladangnya ujian. Ujian apa saja ada di dunia ini. Ujian keimanan, ujian ketaatan, ujian kesabaran dan banyak ujian lainnya. Lalu bagaimana di akhirat ? ya tidak ada ujian. Di akhirat hanya ada pembalasan. Pembalasan paling tidak enak ya tentu di neraka. Pembalasan yang super enak ya tentu di surga.

Sekarang ini anda sedang mengalami ujian keimanan terhadap salah satu syari’at Allah SWT diantaranya adalah kebolehan bersyarat bagi suami dan ketaatan mutlak seorang istri terhadap suami. Ujian tersebut bisa saja dimanfaatkan syaitan untuk mengganggu fikiran anda dan anda harus mempu mengatasinya. Sebab jika anda tidak berhasil megatasinya tentu sangat berbahaya, nantinya anda sangat berpotensi untuk menggugat keadilan ALLAH Yang Maha Adil. Jika satu poin ini anda kerjakan, nanti akan berpotensi merembet dengan gugatan-gugatan lainnya yang ditujukan kepada Allah misalnya gugatan terhadap kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT, nau’dzu billah !.

Mungkin bahasa yang tepat untuk kita adalah mencari hikmah dibalik kelebihan dan kekurangan wanita sebagai makhluk Allah SWT.

Sebelum kita membahas wanita sebagai makhluk Allah, saya akan memmberikan ilustrasi tentang berbagai macam pertolongan Allah SWT kepada para hambanya.

Yang pertama, ketika Musa AS dan kaumnya diburu oleh Fir’aun dan konco-konconya. Saat itu Musa AS dan kaumnya terdesak. Di depan mereka ada Laut. Di belakang mereka ada Fir’aun CS. Serba salah bukan ? mau berenang tidak bisa, tidak ada perahu apalagi boot. Mau balik ke belakang ? Ga mungkin lah. Balik mundur sama saja nyetor nyawa buat Fir’aun Cs. Disaat genting itulah Musa AS berdo’a agar beliau dan Bani Israi’il diselamatkan oleh Allah SWT. Mengapa minta diselamatkan ? alasannya bukan mereka takut mati, tapi agar agama Allah lestari. Jika beliau dan pengikutnya mati semua, tentu saat itu tidak ada lagi yang menyembah Allah SWT sampai Allah mengutus seorang Rasul selanjutnya.

Allah SWT menjawab do’a Musa AS. Allah berfirman kepada Musa AS agar beliau memukul laut dengan tongkatnya. What ? memukul laut dengan tongkat ? Andaikan beliau prostes kepada Allah SWT karena perintah Allah SWT tersebut tidak sejalan dengan logika, tentu Fir’aun Cs mudah sekali menangkap Musa AS dan para pengikut beliau. Jika mendahulukan akal ketimbang taat, tentu logika akan bertanya seperti ini : “Apa hubungannya tongkat dengan laut ? Terkesan perintah tersebut seperti main-main. Jika Allah mau menolong Musa As yang saat itu terdesak, mengapa Allah tidak menolong dengan cara menyediakan kapal besar super canggih yang tentunya dapat membawa Musa AS dan pengikutnya menyebrangi laut bukan ? Menyediakan kapal besar itu perkara yang sangat mudah bagi Allah tentunya.

Tapi begitulah sifat hamba Allah yang taat. Para hamba Allah yang taat lebih mendahulukan perintah ketimbang logika. Tanpa ba’ bi’ bu, Musa AS melaksanakan perintah memukul laut dengan tongkat. Lalu apa yang yang terjadi ? barulah mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya Allah SWT. Laut terbelah sehingga Musa As beserta pengikutnya bisa menyebrangi laut dan selamat. Dan disini sudah jelas tentunya bahwa Hikmah itu ada setelah TAAT. Jangan dibalik seperti ini : Hikmah itu ada setelah LOGIKA.

Yang kedua, anda tentu tahu apa itu sumur zamzam bukan ? Jika iya, anda tentu juga sudah tau sejarah sumur zamzam bukan ? sumur yang tidak pernah kering hingga kiamat. Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As. Beliau diperintahkan oleh SWT untuk meninggalkan istrinya Hajar dan bayinya Ismail As disebuah lembah yang jauh dari tempat tinggal mereka. Bukan hanya jauh, lembah tesebut sangat kering. Saking keringnya tidak ada satu batang rumputpun di sana apalagi buah-buahan seperti di mall. Andai kita yang menjadi Nabi Ibrahim AS, tentu kita akan mendahulukan logika yang bisa saja seperti ini : “Tega banget sih Allah menyuruh saya meninggalkan istri dan bayi saya di tempat tandus ? Kenapa sih tidak menyuruh saya meninggalkan mereka ke suatu tempat selayaknya orang bisa hidup seperti perkampungan dimana disana ada warung, ada gandum dan lain-lain. Tidak masalah walau pun jauh, yang penting fasilitas mereka untuk hidup ada. Apa Allah ga kasihan sama bayi saya yang harusnya mendapat asupan gizi lebih dibanding orang dewsa ? Lah kok malahsebaliknya, Allah menyruh saya menempatkan mereka di tempat tandus ? Selain Ibrahim AS, mungkin Hajar sebagai istri sudah protes keras tentunya. Bisa saja beliau meminta cerai karena menganggap Ibrahim As kejam, tidak berperi kemanusiaan, dan juga mungkin sudah gila karena tega meninggalkan anak dan bayinya di tempat yang sangat jauh dari layak.

Tapi hebatnya, baik Ibrahim As dan istrinya tidak mendahulukan perasaan dan logika terhadap perintah Allah tersebut. Mereka lebih mendahulukan ketaatan.

Anda bisa bayangkan jika Ibrahim As dan istri menolak perintah Allah tsb. Jika Ibrahim dan istrinya mendahulukan logika, bisa jadi sumur zamzam tidak akan pernah ada sampai kiamat. Mungkin juga tidak pernah ada rukun sa’i dan wajib haji seperti melempar jumrah sampai kiamat. Dari sini sudah ada bukti bahwa hikmah tejawab setelah terlaksananya ketaatn dan kepasrahan kepada perintah Allah SWT.

Setelah kita memahami dua hikmah dari kisah di atas, tetntu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Allah Maha benar dan tidak mungkin salah dalam memerintahkan sesuatu atau melarang.
  2. Kita sebagai makhluk sudah pasti layak tunduk, beriman dan taat kepada semua hukum yang telah Allah tetapkan.
  3. Para hamba Allah tidak dilarang mencari hikmah dari perintah atau larangan Allah. Hikmah itu bersifat ijtihadi, dan tentunya setiap orang bisa mengambil hikmah yang tujuannya adalah menambah keimanan dan keraatan kepada Allah SWT.

Baik, sekarang kita akan mencari hikmah terhadap masalah yang anda tanyakan.

Suami boleh berpoligami sedangkan istri sebaliknya, haram berpoliandri. Apakah kebolehan berpoligami bisa diartikan bahwa suami tidak berperasaan ? Jawabannya tentu tidak demikian. Poligami itu bukan wajib. Poligami adalah salah satu tawaran solusi bagi seorang suami yang ingin :

  • Nafsu biologisnya ingin selalu dipenuhi.
  • Ingin mempunyai banyak keturunan.

Namun keinginan-keinginan itu dibolehkan manakala seorang suami mempunyai syarat :

  1. Sehat jasmani.
  2. mampu berlaku adil.

Jika syarat tersebut tidak dimiliki oleh suami, maka poligami menjadi haram hukumnya.

Adakalanya seorang istri tidak sepenuhnya mampu untuk memenuhi nafsu biologis atau nafsu kodrati dari Allah yang dimiliki boleh suami. Seorang istri adakalanya menstruasi sehingga tidak mampu melayani suami saat itu. Dan juga adakalanya sang istri tidak mau mempunyai banyak anak. Atau terkendala dengan banyaknya anak. Atau ada alasan lain mengapa poligami dibolehkan untuk suami misalnya dengan alasan seorang istri mandul baik karena faktor genetik atau faktor penyakit.

Lalu mengapa seorang istri haram berpoliandri ? ya sudah tentu. Jika ia berpoliandri, maka anak yang dilahirkan nasabnya ke siopa ? ke bapak yang mana ?

Tapi sekali lagi, bahwa poligami adalah boleh, bukan wajib. Dan bolehnya pun kondisional dan bersyarat ketat. Jika mampu silakan, jika tidak hukumnya adalah haram.

Dan jika seorang istri tidak ridha dipoligami, ia boleh koq menuntut cerai dan mencari suami baru yang tidak mau poligami. Jadi syariat kebolehan poligami bukan lagi bicara perasaan seorang wanita, tapi bisakah seorang istri melayani full 100% hajat suaminya di setiap waktu ?

Kemudian yang kedua, mengapa suami terkesan superior ? Mengapa seorang istri harus taat kepada suaminya ? Mudah sekali mencari hikmah dari perintah Allah dan Rasul-Nya agar sang istri ta’at kepada suaminya.

Secara fitrah, seorang wanita lebih mementingkan perasaan dan emosional ketimbang logika.  Yang kedua, seorang wanita tidak dibekali oleh Allah kekuatan fisik seperti lelaki yang mempunyai kewajiban banting tulang untuk mencari nafkah. Dengan kata lain, seorang istri tidak mungkin menjadi pemimpin bagi suaminya. Suamilah pemimpin keluarga, pemimpin istri dan anak-anak. Yang namanya pemimpin tentu harus ditaati. Anda bisa bayangkan betapa bahayanya seorang yang tidak mau taat kepada pemimpinnya. Timbal baliknya, suami harus melindungi istri dan anak-anaknya. Suami wajib memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Suami wajib mendidik istri dan anaknya. Suami wajib memimpin keluarga untuk pergi menuju syurga.

Masalah bidadari ? Tidak perlu khawatir. Seorang istri yang masuk syurga akan diberikan keistimewaan oleh Allah SWT. Seorang istri yang shalihah dicemburui oleh bidadari. Seorang istri yang masuk syurga akan dirubah parasnya oleh Allah SWT menjadi saaaangaaat cantik dan kecantikannya melebihi bidari. Karena kecantikan yang mengalahi bidadari, seorang suami hanya berhasrat kepada istrinya di surga. 70 bidadari yang Allah sediakan nanti mungkin hanya menjadi pembantu layaknya seorang pembantu  di dunia. Hebat bukan ? Anda menjadi ratu bidadari Surga untuk suami anda kelak, aamin.

Wallahu a’lam